TUHAN SEMBILAN SENTI

June 12th, 2007 by uniq-arielies


Oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara- perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

(Diambil dari milist Alumni_Kimia_UI)

Cinta laki-laki biasa……..

June 12th, 2007 by uniq-arielies

Dari intranet. depperin.go.id

CINTA LAKI-LAKI BIASA

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima.
"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:21 AM

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

"Nania cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!"

Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur
duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:21 AM

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar!"
"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang."
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:22 AM

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:22 AM

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

"Bang?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:23 AM

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di
sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.



Zeus Rahman

16-07-2005, 01:23 AM

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih
dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

June 4th, 2007 by uniq-arielies

Secara pasti kemarin berbuat kesalahan… mmmmmmmmmmmmm aku tidak bisa memaki bahkan untuk diriku sendiri entah knapa rasanya c ingin memaki diri sendiri tapi baru memikirkan kata maikian saja membuatku bersalah……… (bukannya so’ ga pernah memaki tapi hampir tidak pernah menggunakan kata makian, kecuali BODOH!!!!, eh itu makian yak?). Pokoke kamu aja deh yang memaki, dengan senang hati kuterima, jika perlu tampar saja! Aaaaaaaaaauuuuu sakit….. tapi jauh lebih sakit di hati.

Secara pasti hari ini menguras pikiran. Beban seolah2 semuanya terpikul. Why me? jadi inget kata2 yang selalu kamu ucapkan…"Oh God why me, why me?". Tapi sayangnya tidak ada yang menjawab "because i love you" ketika pertanyaan itu kulontarkan.

Secara pasti hari ini menguras energi. Sejak pagi, bangun tidur berhadapan dengan komputer sampai matahari mulai beranjak pergi. Hmmmm kemampuanku diuji, memanage marah….. Bagaimanapun dihadapin dengan senyum akan lebih enak kan? Itulah kalau jabatan rangkap2 tapi honor tidak rangkap hehehehe apakah sebuah dedikasi harus dihargai dengan uang?

Secara pasti hari ini sepertinya senyumku tidak tulus, hehehe maunya tidak tersenyum tapi harus tersenyum. Hey, apakah semua harus berbagi dengan ketidaknyamanan?

AAAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHhh rasanya enak banget kalo bisa teriak sekencang mungkin. Tapi bagaimana? Menjangkau stasiun kereta api saja tidak sempat.

Secara pasti kalau bisa menghapus kemarin, hari ini dan hari esok, tapi tidak bisa, karena inilah hidup. It’s my life….

Secara pasti tidak bisa meninggalkan kepingan hatiku. Sebuah puzzle tidak akan lengkap jika ada kepingannya yang hilang. Ah, tidak akan lepas ingatanku tertuju padamu.

Hey, secara pasti hari telah malam tapi pekerjaanku belum selesai. Back to your work uniq!!!!!

"pleaseeeeee………."

Pahit…pahit…pahit….

May 14th, 2007 by uniq-arielies

Kemaren sore, sudah mampir ke blog ini, sempat menulis tapi ternyata sebelum sempat kesimpan internetnya udah mati duluan :(

Beginilah kalo biaya internet sudah melampaui budget, akhirnya dibatesin lagi…..

Jadi ga tau lagi apa yang mau ditulis, setelah beberapa jam tadi berkutat dengan tulisan edible packaging. Hasil pikiran semalampun yang mau ditulis ga jadi ditulis. Bingung harus mulai darimana. Menulis suratpun ga jadi dilakukan, karena ga tau nanti mau dikirim kemana atau disimpan dimana.

Oooooooooooooooops, ternyata minum teh pahit itu enak juga, sebenarnya c bukan teh dari pohon teh tapi entah tanaman apa jadinya paiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitnya bener2 pait, kayak jamu. Minum segelas minuman pahit seenggak2nya mengingatkan kalo minuman itu ga harus manis. Kopi pahit, teh pahit, jamu pahit apapun yang pahit kadang lebih bermanfaat daripada harus selalu minum yang manis. Seperti kehidupan bukan?

"seekor keledaipun tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dua kali, tapi yang namanya ari karena bukan keledai melakukan kesalahan yang sama berulang kali…" hehehehe tapi aku bukan menyebutnya sebuah kesalahan, it’s not fair menyebutnya kesalahan untuk sebuah pilihan hati walaupun tau tidak mungkin. Kita ga akan pernah tau kan minuman itu pahit atau manis kalau belum meminumnya. Dapat minuman pahitpun ya harus tetap dihabiskan, toh itu pilihan kita sendiri……….

Akhirnya, selamat meminum……………yang pahit ^_^

Tapi dengan tersenyum yak!!!

"7 detik, 7 menit, 7 jam, 7 hari, 7 minggu, 7 bulan, ataupun 7 tahun lagi aku tidak akan pernah menyesali pernah minum ini walaupun pahit..emmmm glek!!!"

Diz day….

April 30th, 2007 by uniq-arielies

Pagi hariku dimulai dengan…..oopss muntah2, hehehe jangan curiga dulu, bukannya signal morning lho!!! tapi beneran, sepertinya perutku tidak bisa masuk makanan.

Sampai kantor, makan kue sedikit, lumayan lah nambah energi, langsung mempersiapkan rapat (beginilah kalo jadi "sekretaris", kalo ada rapat harus nyiapin semua mulai dari nyiapin ruangan, LCD, laptop, bahan rapat yang motokopi sendiri juga). Lumayan juga dapet snack, makan sedikit bikaambon dan segelas teh manis. Berhubung rapat kepala Balai Besar yang di Jakarta dan Bandung makan siang Hoka hoka bento ^_^. Lagi makan, irma telepon nanyain diklat peneliti (biar ga bentrok ma cutinya ;) ) Selesai makan nelpon m’and nanya yg ditanyain irma…(hmmmm agak sedikit menjengkelkan). Belum selesai telpon dah keburu ri tutup…….. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah lari ke kamar mandi, nangis2 sambil muntah (GUBRAAAAAAAAAAAAAAAK ternyata perut masih lum nerima makanan, sarapan pagipun ikut dikeluarin). Sehabis sholat agak mendingan, nyari irma ga ktemu, nyari ika ga ktemu juga ya sudah nangis sendirian hehehehe cengeng banget yak pake nangis segala…

Ternyata rapatnya diterusin sebentar. Sehabis rapat, masih harus ngetik notulensi rapat, bikin matriks kegiatan, kemudian kirim ke peserta rapat yang tadi via e-mail. Surat2 program minta p Ham yang menghandle, hehehe kapan lagi nyuruh2, soale atasan langsung ga masuk neh! Udah kelar semua, buka intranet, masuk chatroom dan ternyata kosong :( Baru sebentar baca berita internal, Eta dateng nyariin mouse, akhirna ri pinjemin mouse program. Baru sentar lagi, tuh bocah dateng, katanya laptop big boss ga bisa tampil dilayar. Huaaaaaaaaaaaaaaah masalah gituh aja knapa musti arie?? Dengan berat hati akhirnya ke ruangan bu Nus juga, dan ternyata cuma karena kurang pencet Fn F5 aja. Karena hal itu, disuruh juga ikut rapat, hehehe tapi nolak donks daripada nanti disuruh jadi notulen, pulang telat mending bilang ada kerjaan lain (psssssssssst jgn bilang2 yak!!). Tapi heran juga, knapa semua orang terutama Ka.bid2 masih aja nganggep aku sekretaris. Tapi lumayan juga c, jadi kenal semua Ka. Balai Besar lainnya, hehehe seenggak2nya muka n namanya jadi tenar.

Coklat!!! Kayaknya hanya makanan itu yang masuk hari ini. Lumayan, jadi ga ngedrop2 banget. Ketuika lagi nulis ini om Roy dateng bawa brosur TA instrumen. Seperti biasa, orang2 pasti nanyain "cowoknya yak Rie?" GUBRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK lagi, berapa orang yang dateng nemuin ri ke kantor pasti dibilang cowokku :(. Om Roy bentar doang, ngasih brosur langsung pulang, mo jemput istrinya, Iroh Su Iroh. Nunggu Irma, hari ini kemana yak? Padahal banyak yang mo ditanyain….

Ooops, belum bikin makalah buat riset unggulan padahal hari ini terakhir dikumpulkan. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, sudahlah nunggu ditagih aja! Tinggal copy paste ini. Duh lemes banget neh, tadinya mau gak masuk tapi inget kerjaan jadi dipaksain masuk deh. Pengen berlibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur, ambil cuti ah, masa’ 4 tahun jadi pegawai belum pernah ambil cuti tahunan :(.

NB: Epie bilang kantornya kebanjiran. Dayeuh Kolot emang sering banget kebanjiran dari Citarum. Sayang instrumen2 yang kerendem. Kenapa juga instansi pemerintah di pinggiran kota?

"saat ini aku begitu mencintaimu………"

My dear friend…..

April 22nd, 2007 by uniq-arielies

Dear Irs…..

Kita sejak lahir telah diberi telapak kaki

agar kita bisa melangkah dengan pasti

Awal belajar melangkah kita sering jatuh, tapi dengan yakin kita terus bangkit dan akhirnya bisa berjalan bahkan berlari

wajar jika sekarang kita masih sering jatuh karena tersandung ataupun ada langkah yang salah

kita tidak bisa berharap langkah kita akan selalu mulus dan lancar

tapi kita bisa berusaha meminimalkannya

Dear Irs….

Langkah kita harus selalu kita pertanggungjawabkan

melangkahlah dengan pasti

yakinlah dear, apa yang kita tuju dengan langkah kita sendiri itu yang terbaik buat kita

kalaupun jatuh atau tersandung, ada seseorang yang akan selalu siap membantumu berdiri dan terus melangkah

jangan pernah berharap digendong, kau harus terus melangkah dengan tapak kakimu sendiri

Berdua dengannya, kau akan dapat lebih mudah menyusuri jalan kehidupan

Masalah yang timbul adalah rintangan langkahmu, meloncatlah dan lewati itu semua

Yang terpenting adalah keyakinan dan keteguhan, keep the faith my dear…

Suatu saat kan kau temui harapan diujung langkahmu, sehingga kau bisa berhenti sejenak mengambilnya

kemudian meneruskan langkahmu….

berjalan ataupun berlari

Akhirnya, happy birthday my dear friend, wish u all the best!

Wish your dream comes true………..

"aku selalu berharap memiliki seseorang untuk menemani langkahku…"

Aaaaaaaaaarrrrrggh…………

April 20th, 2007 by uniq-arielies

Berdiam diri di depan komputer but i’ve do nothing. NOTHING!!!!! Aku marah? Pada siapa harusnya aku marah? Apa sebabnya? Atau aku memang bukan lelah tapi sudah bangun? Bangun dari apa? Kadang merasa sia-sia memperjuangkan sesuatu yang tidak mau diperjuangkan. Untuk apa? AAAAAAAAAaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggghhhhhhhhh buat apa menangis!!!!!! Tolong!!!! Air mata ini tidak bisa dihentikan. Terserahlah, biar saja air mata ini mengalir toh nantinya dia juga akan bosan dan berhenti mengalir sendiri. Aku berpegang pada bayangan hingga saat aku terjatuh dia tidak bisa menopangku. OOooops………aku sangat mencintainya. Apakah karena itu aku marah? Apakah karena itu aku harus menangis?

Duhai air mata, tahanlah sedikit saja yak? Yak? Sampai hujan turun, tunggulah sebentar saja, setidak-tidaknya sampai aku menyelesaikan tulisan ini. Hey, hujan sebentar lagi juga turun, menarilah bersamaku di bawah hujan, kita berputar bersama-sama layaknya penari balet dan tidak ada yang menonton. Yak? Hanya kau kan yang setia menemaniku…………..

"mencintai dan dicintai merupakan suatu anugrah, tetapi ketika tidak mendapatkan keduanya mengapa hati menjadi terluka?"

Jeruk, Capung dan Danau…

April 19th, 2007 by uniq-arielies

Thanks 4 everything……..

"aku mulai lelah berlari………"

Berlari……

April 18th, 2007 by uniq-arielies

"Aku berlari, berlari dan terus berlari……. tapi sampai kapan ku harus berlari??"

Aku menelusuri jalan yang telah kupilih sendiri. Di pertengahan aku berhenti sejenak, haruskah ku kembali dan akan selalu bertanya-tanya apa yang ada diujungnya atau kuteruskan langkahku walau kemungkinannya air mata yang tertumpah. Hey, bukan aku pesimis tapi realistis!! Aku sudah berlari sejauh ini tapi harapan yang ku kejarpun ikut berlari menjauh…. :(

"Ri, elo bodoh yak?" Gubraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak, pernyataan telak dari seorang sahabat. Aku bodoh? Bodoh karena katanya aku mengejar sesuatu yang sia2. Apakah sebuah harapan itu suatu kesia2an? Kalaupun itu yang harus dijalani, that’s a life, bung! My life.. my part of life.. Yang pasti, aku mencintainya. Hey, aku punya cintaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. (sambil berlari ^_^)

Trust…

March 29th, 2007 by uniq-arielies

"Sedang menunggu edzard, irma, dll, sendirian dalam ruang rapat :("

Apa sih arti sebuah kepercayaan?

Bagaimana bila seseorang yang kau sayang, kau cinta tidak mempercayaimu? Bagaimana bila perasaanmu selalu diragukan? What should u do?

Please send the answers to me…….. ^_^

i really really love u, truly……..